Rabu, 22 Oktober 2014

Ulang Tahun (?)

Kemarin untuk kesekian kalinya saya merayakan -lebih tepatnya hanya mengamati- ulang tahun teman saya di kampus. Ya begitulah entah kenapa berbagai dorongan diri menyatakan tidak setuju dan tidak ingin ikut-ikutan dalam perayaan ini. Mungkin karena beberapa musabab aku mulai membenci yang namanya perayaan ulang tahun seperti yang mereka lakukan.

Sobat tahu dengan perayaan ekstrim ulang tahun ala anak kuliahan di kampus ini? Mungkin bukan hanya di kampus ini, namun hanya di Indonesia sobat menemukan perayaan seperti ini. Merayakan sebuah hari ulang tahun di kampus kemaren, begini kronolginya.

Si korban -yang lagi ulang tahun- dijebak dengan berbagai cara untuk ikutan nimbrung ke dalam obrolan gak penting dan pura-pura serius dalam membicarakan sesuatu. Atau dijebak dengan berbagai hal yang menyudutkan si korban -yang lagi ulang tahun-. Dan pada waktu tertentu, si korban akan diikat pada tangan dan kakinya, lalu dengan seketika ada rombongan telur bercampur tepung akan dilempar ke badan si korban. Pernah gak sih ngalamin hal yang sama? Sebel gak? Begitulah yang saya pikir tentang hal ini. 

Selain merupakan hal yang ngebuat sebel dan kesel, hal ini juga tentunya memunculkan salah satu bentuk pemborosan. Kebayang gak telur dan tepung itu bisa dijadiin apa kalau dialihkan menjadi sebuah makanan? Pasti kebayang dong. Yah, lebih baik telur dan tepung yang akan dijadikan bahan lemparan untuk mengotori si korban dialihkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Untuk apa dibuang dan akhirnya akan mengotori korban dan lingkungan sekitar tempat perayaan. 

Bau amis dari lemparan telur dan tepung gak salah menjijikkan. Itulah yang saya rasakan. Makanya sedari dulu saya membenci perayaan seperti ini. Bagi saya, ulang tahun adalah momen berharga yang harusnya dilewati dengan damai dan bahagia. Kalau ada yang menyatakan kalau dengan  perayaan ektrim seperti hal diatas adalah salah satu bentuk yang membuatnya bahagia, saya akan langsung mencap dia orang gila. Ya, menurut saya perayaan ekstrim seperti ini hanya orang gila-lah yang menikmatinya.

I hate an ekstrem celebration for a birthday.

Minggu, 19 Oktober 2014

Ngebolang di Permindo Raya, Padang



Haduh, sebenernya gw mau ngeblog kemaren. Nulis pengalaman pertama gw naik TransPadang. Iya dong, bukan cuma di jakarta doang yang punya TransJakarta, padang juga punya. *LOL*

Padang memiliki banyak halte pemberhentian yang muaranya itu di Pasar Raya Padang. Dan FYI, tempat muternya itu di perbatasan Kota Padang sama Pariaman. Kebayang dong kalau kita seandainya naik di depan UNP yang busnya jalan ke arah pariaman, jauh muternya. Tenang, gw gak naik disana kok, gw naiknya di halte deket Basko Grand Mall.


Jadi ceritanya kemaren itu gw mau hunting  foto buat tugas Media Pembelajaran. Ada dua (materi) yakninya fotografi analog (kalau gw make kamera camex 35 FMD) dan fotografi digital (samsung st77). Yosh simak ceritanya.



Awal perjalanan kami -ya gw bareng 3 orang temen- bermula dari halte Basko Grand Mall. 


Cara naiknya sama dengan naik angkot atau bus biasa, kagak perlu ada ritual tertentu buat naikin ini bus. Tapi ya itu, bedanya sama angkot/bus komersial biasa adalah mengenai tempat duduk serta kenyamanannya. Okeh, tempat duduk. Jangan harap lu yang masuk belakangan bakal dapet tempat duduk langsung. Biasanya -kata temen gw- yang masuk belakangan itu bakal berdiri bentar sampe ada orang yang turun di halte berikutnya, nah kalau udah ada kursi yang kosong boleh deh lu duduk disana. Tapi dahulukan orang tua, wanita yang hamil, orang dewasa yang ngebawa anak beserta sederetan aturan lain yang bakal ngebuat rasa hormat lu sama orang lain naik -dan intinya lu gak bisa duduk di kursi dan berdiri sampe halte tujuan lu-. Trus kalau nyaman? Buat gw TransPadang udah nyaman kebanding angkot atau bus komersial biasa. Tau kan angkot/bus padang gimana? Hebohnya minta ampun, jadi buat sobat yang kepengen suasana tenang selama perjalanan boleh deh coba naik ini TransPadang.

Untuk ongkos, TransPadang mematok dua jenis ongkos. Terbagi atas ongkos umum -Rp. 3500,00- dan ongkos anak sekolahan -Rp. 1500,00-. Nah, buat sobat yang make baju umum boleh deh ngeongkos Rp. 3500,00 walau sobat sendiri pelajar. Makanya pake baju sekolah. *eeh Ini nih penampakan tiket perdana gw.


Buat aturan-aturan dan suasana di atas TransPadang, boleh deh di cek foto-foto di bawah.







Kami turun di halte Permindo/Pasar Raya Padang, tepatnya di depan SMP Negeri 1 Padang. FYI ini SMP disebut-sebut sebagai sekolah salah satu proklamator kita yaitu Bung Hatta. Bangga dong mereka yang sekolah di SMP ini. Okeh, ganti topik. Topik selanjutnya muter di Permindo. Sekedar sobat tahu, Pasar Permindo merupakan pasar yang bersebelahan dengan SMP Negeri 1 Padang dan di dalamnya terletak juga bioskop. Entah apa namanya, gw lupa. Okeh lupain. Pasar Permindo keadaannya sama dengan pasar tradisional di daerah lainnya. Becek, rame, sumpek, dari barang dagangan harian sampe musiman ada disini. Mulai dari dagangan pegunungan sampe dagangan lautan komlit disini. Kecuali ikan hiu, pari, paus, kuda laut, kuda, singa, gw berani bertaruh itu gak ada di pasar ini.

Pasar Permindo menyambut pengunjungnya dengan adanya tugu Permindo yang letaknya di kawasan SMP Negeri 1 Padang. 


Keren kan? hahah
Salah satu spot favorit gw di pasar ini adalah gonjong pasarnya. Walau gak kerawat, entah kenapa ini foto favorit gw. Mungkin emang karena gw suka gonjong gitu ya. Sayangnya ini pasar sama keadaannya sama Pasar Putiah yang ada di kawasan Pasar lereng Bukittinggi, gak kerawat dan udah sepi pengunjung. Namun inilah uniknya gw, ngambil spot yang orang bahkan gak merhatiin sedikitpun. Begini fotonya. Cuma satu. Just One.

Dan setelah ngunjungin beberapa tempat yaitu Kampung Cina yang ada di kawasan Pondok, Padang, gw beserta temen-temen shalat di salah satu masjid dan sehabis itu kami capcus pulang dan berakhir di masjid ini -karena kami huntingnya pisah-.

Dan tiba saatnya gw pulang, gw pulang naik angkot. Udah itu aja perjalanan gw kemaren -18 Oktober 2014-. Btw, tugas fotografi gw kelar! Dan masalahnya gak tau mau nyuci klise/film analognya dimana. Hahah LOL. Okeh bye bye kawaaan. Selamat menikmati. Sampai Jumpa pada tulisan gw selanjutnya.

----------------------------------
Ps : semua foto gw yang ambil.

Rabu, 24 September 2014

Introspeksi dulu sebelum mengeluh karena banjir!!

Setelah melihat keadaan yang terjadi dan mengingat kembali obrolan salah seorang pengunjung jakarta di warung saya di kampung tahun lalu, agaknya tangan saya mulai gatal untuk menulis tentang ini.

Hari ini hujan lebat mengguyur kota padang. Dan tak ayal lagi banyak yang mengatakan "Aah banjir lagi, banjir lagi. Pemerintah ini gimana sih? Urusan jalan sama irigasi itu dibenerin dong. Masa' banjir terus" -begitulah saya tutur kembali ke dalam bahasa indonesia agar banyak yang ngerti-. Lantas saya berpikir, begini ceritanya jalan pikiran saya.

Dalam perencanaan bangunan, telah diputuskan bahwa bangunan itu harus dibangun sekitar 1,5 meter minimal dari garis tepi jalan. Ingat, ini namanya garis sempadan bangunan. Dimana walaupun tanah yang dimiliki itu sampai ke tepi jalan, namun untuk membangun sebuah bangunan, pagar harus berjarak 1,5 meter minimal dari tepi jalan. 

Lalu, untuk sebuah bangunan ideal yang cocok untuk iklim tropis Indonesia yang sering turun hujan, maka sebelum membangun, pastikan bahwa bangunan itu lantainya setidaknya ditinggikan 30-50 cm dari muka tanah. Hal ini bertujuan agar jika banjir, rumah akan aman dan tidak kemasukan air. Kalau perlu ya lantainya ditinggiin sampe 1 meter biar aman. XD

Trus hal yang sampe sekarang membuat bingung yakninya adalah masalah irigasi. Untuk irigasi, di setiap rumah yang akan dibangun harus mempertimbangan adanya irigasi yang cukup agar nantinya sirkulasi air berjalan lancar. Namun apa yang kita lihat? Saluran irigasi yang terdapat di depan rumah atau bangunan dipenuhi oleh sampah rumah tangga -karena kebanyakan penduduk memanfaatkan selokan untuk membuang sampah, fakta kan?-. Dan saluran irigasi ini seharusnya berada 1 meter di bawah muka jalan. Artinya, saluran irigasi tidak terletak sejajar dengan muka jalan, namun saluran ini terletak di bawah muka jalan, digali dulu areal di sekitar jalan yang akan dibangun trus ditimbun. Itu idealnya.

Dari banyak hal di atas, apa korelasinya dengan banjir? Yuk simak satu-satu.

Garis sempadan bangunan yang berjarak 1,5 meter dari tepi jalan itu udah aturan pemerintah guna menertibkan bangunan. Selain dari segi estetikanya, garis sempadan ini juga berfungsi untuk pengamanan pada bangunan apabila suatu hari nanti terjadi bencana yang berkaitan dengan jalan, semisal banjir. Dan garis ini kebanyakan berfungsi sebagai trotoar jalan, tempat buat pejalan kaki itu lo. Di kota besar dan kota yang saluran irigasinya bagus, trotoar ini dimanfaatkan untuk; pertama ya trotoar, dan coba deh perhatiin di bawah trotoar itu ada saluran irigasi. Nah kalau garis sempadan ini diabaikan, ya itu! Banjir kan bisa aja terjadi dan langsung mengalir ke rumah.

Trus, kita lihat di opsi kedua. Masalah tinggi lantai bangunan yang ditinggikan sekitar 30-50 cm dari muka tanah. fungsinya agar kalau terjadi banjir, airnya ini gak masuk rumah. Kebayangkan? Kalau semisal ada banjir yang gak terlalu tinggi ya airnya gak masuk ke rumah. Aman. 

Nah, bagaimana dengan banjir yang tingginya itu sampe 1 atau bahkan 2 meter itu?

Itu hubungannya sama opsi ketiga. Yakninya masalah irigasi. Selain membangun saluran irigasi 1 meter di bawah muka jalan, tiap-tiap kota ataupun kabupaten pasti memiliki saluran irigasi terpusat seperti kalau di jakarta waduk gitu. Kalau di sini kita kenal namanya "Banda Gadang", di Lampung namanya "Ciling". Bener kan? Fungsinya apa? Agar air yang berasal dari selokan-selokan bawah tanah itu dapat mengalir lancar ke pusat air seperti danau, sungai, bahkan laut. Namun selokan -saluran irigasi- bahkan saluran terpusat -seperti sungai,- yang ada di sini malah dipenuhi sampah. Kebayangkan kalau isinya sampah, air mau lewat kemana coba? Apa bisa itu air lewat padahal saluran mereka kesumbat. Jadi pilihan mereka ya menguap dan malah memenuhi badan jalan dan perkampungan. Banjir kan?

Dan yang saya lihat disini juga ya itu, adanya jalan yang tidak rata. Seharusnya ya, jalan itu rata. Gak ada yang cukam ke tanah, dan gak ada yang menggunduk melawan gravitasi. Oke, kalau ada yang ngebantah bahwa setiap tahun jalan mengalami penurunan karena memang sifatnya tanah seperti itu. Bergerak dan gak stabil. Pasti ada penurunan muka tanah. Namun, ya ituuuuu. Setidaknya 3 aspek utama di atas dapat menjadi pertimbangan bagi kita agar introspeksi diri sebelum mengeluh karena banjir. Dan buat yang mau ngebangun rumah atau mau ngebeli rumah, setidaknya  garis sempadan, tinggi lantai dari muka tanah, dan saluran irigasi patut dipertimbangkan. 

Agar bangunan yang anda huni itu aman dari banjir. Dan gak mengeluh nantinya. Pikirkan, bahwa Tuhan gak pernah mau kok ngasih banjir ke kita. Namun kita sendiri lah yang menciptakan banjir itu. Makanya introspeksi dulu sebelum mengeluh.

Sekian, semoga menginspirasi. Silahkan share apabila bermanfaat. :)

Minggu, 14 September 2014

Sajak Pohon

Sejenak ingin ku menjelma menjadi sebatang pohon.Rimbun. Memberi arti bagi sekitar.Rimbun. Bermanfaat. Bukan sebagai parasit.
Ini bukan pandangan skeptis semata.Ini bukan omong kosong.Ini realita.
Tak tampakkah bagi kalian sang pohon itu tak pernah menjadi parasit?Dialah yang menjadi inang.Selalu berarti bagi sekitar.
Mereka tak pernah mengeluh.Bahkan ketika tubuh mereka mulai menua.Tak ada keluh kesah.

Tak tampakkah bagi kalian sang pohon itu tak pernah menghujat walau keadaan memaksa?Mereka akan selalu memberi asupan oksigen untuk kita bernafas.Hingga akhir hidup mereka.
Hingga dedaunan pada tubuh mereka mulai gugur.
Dengan pengorbanan seperti ini masihkah kita pantas untuk memaksa? Menghujat? Menganiaya mereka yang berkorban menghidupimu?Mereka alat Tuhan bagimu untuk mampu bernafas.
Tanpa mereka apa jadinya hidup ini?Relakah kalian melihat mereka satu persatu musnah? Hingga tak ada lagi oksigen yang dihasilkan mereka?Relakah? Mari kita bermenung.


Menghadirkan siluet indah